


Pengertian Diastereomer: Perbedaan Stereokimia dan Sifat Fisik
Diastereomer adalah dua atau lebih senyawa yang mempunyai rumus molekul sama tetapi berbeda dalam susunan unsur aktivitas optiknya, seperti pusat kiral. Mereka non-enansiomer, artinya mereka tidak memiliki struktur tiga dimensi yang identik seperti enansiomer. Sebaliknya, mereka memiliki konfigurasi komponen molekuler yang berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan sifat fisik dan kimianya.
Diastereomer dapat muncul dari berbagai sumber, termasuk:
1. Fleksibilitas stereosenter: Ketika sebuah molekul memiliki stereosenter (pusat kiral) yang tidak terkunci secara kaku ke dalam satu konformasi tertentu, molekul tersebut dapat berada dalam berbagai bentuk stereoisomer.
2. Rotamer: Rotamer adalah jenis diastereomer yang muncul ketika suatu molekul memiliki ikatan yang dapat diputar antara dua stereosenter. Molekul dapat berada dalam dua atau lebih konformasi berbeda, masing-masing dengan stereokimia berbeda.
3. Inversi: Diastereomer juga dapat muncul dari inversi pusat kiral, yang mengakibatkan perubahan stereokimia molekul tanpa mengubah rumus molekulnya.
Diastereomer seringkali memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda, seperti titik leleh, titik didih, kelarutan, dan reaktivitas. Hal ini karena perbedaan stereokimianya dapat mempengaruhi cara molekul berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungannya. Misalnya, diastereomer mungkin menunjukkan aktivitas enzimatik yang berbeda atau berikatan dengan target biologis yang berbeda karena sifat stereokimianya yang berbeda.
Singkatnya, diastereomer adalah senyawa stereoisomer yang memiliki rumus molekul sama tetapi stereokimianya berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan sifat fisik dan kimianya. .



